Jika lima kalimatku kau balas dengan satu kata singkat, berapa ribu paragraf yang harus aku sampaikan sampai kau dapat memberikan untaian kalimat-kalimat romantis?Jika kau membutuhkan waktu seharian untuk membalas pesanku, berapa lama aku harus menunggu sampai kalimat itu rampung?

Advertisements

Selamat pagi, duhai malam yang bertabur bintang. Kamu tampak indah, mungkin karena hati sedang berbunga. Atau karena hati baru saja terjatuh. Jatuh kedalam lautan luas dan dalam yang dinamakan cinta. ***

Padahal hati ini sudah sangat berhati-hati, agar tak terpeleset dan terjatuh kedalamnya. Padahal hati ini sudah menjaga dirinya dengan sangat, agar tak terlena dengan alunan perasaan yang dinamakan cinta. Padahal hati ini sudah menjauh dan mencoba hilang, agar tak lagi terjatuh kemudian merasa sakit. 

***

Hati yang sangat menjaga dirinya tak kuasa mengelak. Ia dengan mudahnya mempersilahkan perasaan itu untuk masuk pada kali pertama pintunya diketuk. Hati menuntun perasaan yang sudah lama tak ia rasakan itu menjelajahi seluruh ruang dirinya. Ia kalah. Ia pasrah. 

***

Lumajang, 31 Desember 2016

kalau aku bilang aku gak kangen kamu, itu berarti aku sedang berbohong
kalau aku bilang aku tidak pernah menangis karena rindu, aku bohong.

Karena kadang tanpa sadar air mata menetes, demi rindu yang tak lagi tertahankan. misalnya saat aku menulis tulisan ini. 
aku hanya tidak ingin mengganggumu dan aktivitasmu. Biarlah aku menjadi yang kesekian. Kalau kau memang benar-benar ada waktu luang saja. :))
Kalau aku tidak membalas pesanmu saat tengah malam, beberapa menit waktu berhargamu yang kau sisihkan untukku, belum tentu aku sudah terlelap. Bisa saja aku hanya ingin kau mengira aku sudah tidur, agar kau pun dapat segera bersiap untuk beristirahat. 

dan aku pun tau..
Kadang, ditengah malam yang sebentar itu, kau pun berbohong saat kau bilang kau belum mengantuk, kan? 

Padahal aku tau, kau sangat lelah setelah seharian bekerja. Kau lakukan demi mendengar celotehan suaraku yang sama sekali tidak merdu ini. 

aah.. aku tidak tahu sampai kapan aku dapat bertahan. berkawan dengan jarak dan bercengkrama dengan rindu. Berhitung dengan hari, menjalani 14 hari terlama sampai saat bertemu denganmu lagi. paling cepat 14 hari, mudah2an saja.
Kamu memang benar, ada hal yang tak bisa dibayarkan dengan telfon atau video call. sentuhanmu. wangi tubuhmu. hela nafas. detak jantung. derap langkahmu. 

dan semua yang ada didirimu yang tak bisa tersentuh olehku

Senyum

Percakapan dua insan via line call yang sedang dimabuk asmara, namun terpisahkan oleh jarak ratusan kilometer. Dimalam hari menjelang pukul 00.

A: “kamu lebih suka ‘ngoding’ atau ‘senyum saat difoto’?”

B: *mikir lama

(setelah hening semenit)

A: “Jadi lebih mudah ‘develop aplikasi’ atau ‘senyum’?”

B: “sama aja”

A: “harus pilih satu”
B : “ngoding”

just a simple promise on my birthday

Hari ini usiaku tepat 24 tahun. Selangkah lagi menuju usia perak yang katanya menjadi masa yang ditunggu-tunggu setiap pemuda dan pemudi. Masih teringat sekali dalam benakku, pertanyaan yang kau tanyakan dua hari yang lalu, “Kamu mau kado apa?” Aku bilang aku ingin rumah. Rumah yang ada tangganya 🙂

Kamu tau, aku ingin apa?
Aku, bukan ingin memiliki mobil mewah. Bukan ingin belanja barang-barang mewah di mall sebesar Grand Indonesia. Bukan juga ingin jadi putri raja. Bukan pula ingin bisa membaca masa depan.
Aku ingin jadi hujan yang pertama kali menembak tubuhmu. Masuk ke dalam dirimu. Menyatu dan tak pernah menanyakan jalan keluar.
Aku ingin mengalir hingga berhadapan dengan detak jantungmu.

Aku ingin menyatu dengan kamu.

Udah. Itu aja

 

 

sendirian bukan berarti
kesepian.kesepian pun tak selamanya datang pada orang yang sedang sendirian. 

tapi kalo sedang sendirian dan merasa kesepian, itu sih nasib.

1..2..3..4..5! sudah genap lima hari gunung dan awan tak bertukar sapa. angin lah yang membuat jarak untuk memisahkan temu antara gunung dan awan. gunung gelisah. Ia ingin menyapa awan, tapi takut diabaikan. sebab awan tampak acuh seolah tak ingin disapa. gunung murung. ia hanya berharap angin membawa pesan dari awan. Tapi sepertinya sungguh yidak mungkim

manis tanpa gula

Sejak esensi dari pertemuan adalah mendekatkan diri, adakah yang lebih cepat dari dua hati yang saling memendekkan jarak?

Jika ada dua orang dari kota berbeda ingin bertemu, tentu akan lebih cepat bertemu saat kedua pihak bergerak ke titik tengah bukan? Saling jemput. Kalau cuma satu yang menjemput, waktunya lebih lama. Begitu juga jodoh. 

Saat rasa manis itu terasa padahal tidak ada gula, mungkin sudah saatnya kita memendekkan jarak. Menjadi lebih dekat sampai meniadakan spasi. mungkin sudah saatnya mengutarakan rasa menjadi kata. Menyatukan aku dan kamu menjadi kita. 

Kalau memang rasa itu ada, kenapa tidak segera diutarakan saja. Bukankah memang sudah seharusnya rasa itu dibagi, bukan untuk disembunyikan.

Jangan keasikan menyimpan, lah. Makanan aja bisa bulukan, apalagi perasaan.
Terlalu lama nyimpen perasaan itu gak baik, nanti jerawatan loh!
#sitomatngomongsamasiapasih 

Z!

Kisah Gunung dan Awan (2)

***

Awan selalu terbayang di ufuk mata, kala alphabet berlalu-lalang dengan gamang dipikiran sang gunung. Entah asap dupa apa yang telah awan tiupkan hingga gunung tak mampu lagi menggantikan sosok awan…

***

Gunung terlalu malu-malu untuk mengejawantahkan isi hatinya. Perasaannya hanya meresap dan kemudian menjadi alunan kata dan nada yang terenggok dibagian paling dalam memorinya. Segalanya disimpan rapat, sesenyap ufuk senja saat malam dating menjemputnya..

Saat ini cukuplah gunung menghidupkan awan dalam mimpi-mimpinya. Dalam pengharapannya yang nyata walau tampak sekilas fana bahwa semua yang ia harapkan akan terjadi tepat pada waktunya. Semua kan dipersandingkan sesuai catatan rahasia-Nya. Sampai suatu ketika segala pengharapan tak lagi berkalang semu.

Meskipun awan masih berarak jauh darinya, gunung tetap menjadikan awan inspirasinya dalam tiap nada dan alphabet. Rindunya semakin bertumbuh bagai perdu ditengah hutan yang subur tanpa pupuk-pupuk dusta. Sampai saatnya tiba, Tuhan menunjukkan perasaan yang telah ia simpan diam-diam.

***