Bogor – Sukabumi, Kereta Api Pangrango

Wilujeng enjing sadayana! Di postingan ini saya akan menceritakan perjalanan saya dari Bogor menuju Sukabumi menggunakan kereta api, tuuut tuuut tuuut……..
Baiklah, perjalanan Jakarta – Bogor mah gak usah diceritain ya. Udah pada tau kan naik KRL dari Jakarta – Bogor gimana caranya?
Jadi untuk kalian, sok mangga ke stasiun Bogor dulu kalo mau ke Sukabumi, karena kereta ke Sukabumi cuma ada dari bogor dan cianjur (update Juni 2017). Perlu diketahui, stasiun kereta Bogor-Sukabumi berbeda dengan stasiun KRL Jakarta -Bogor. Kalo KRL mah kan sampe stasiun Bogor, setelah itu kalian harus menuju stasiun PALEDANG yang letaknya kira-kira 200meter dari stasiun Bogor. Setelah sampai di stasiun Bogor, saya sarankan untuk keluar melalui jembatan penyebrangan. Karena kalau keluar dari pimtu stasiun tuh jauuuuh pisan muternya. Untuk yang bawa koper juga lebih baik naik jembatan juga. Percaya deh, da saya mah jujur insyaAllah.

paledang-station

stasiun bogor – paledang

Nah, kalau sudah naik JPO terus turun kekiri, arah ke KFC yang diseberang taman topi. Jalannya di trotoar yaa guys, supaya gak bikin macet jalanan dan bisa sambil liat-liat pedagang kaki lima, kali aja ada cilok yang bisa dicemilin. Sebelum KFC ada jalan yang lumayan besar kekanan. Silahkan kalian belok kekanan terus luruuuuus aja, sampe keliatan tulisan Stasiun PALEDANG. Letak stasiunnya teh kira-kira dibelakang KFC jalan dikit. Udah deh sampe.
Stasiunnya gak terlalu luas, tapi toiletnya bersih dan ada mushollahnya juga. Didepannya juga ada semacam kantin yang jual makanan-makanan berat dan ringan. Tadinya saya pikir harganya akan lebih murah, Karen itu kan dibogor ya. Tapi ternyata lah mahal ya. Satu buah gorengan semacam bakwan / tempe / tahu / lontong / dsb harganya 3000 rupiah. Padahal ukurannya sama aja dengan yang biasa saya beli di angkringan susu murni seberang D’cost kemang seharga Rp 1000. Saya beli air mineral prima kemasan 200ml seharga Rp 5000, bubur ayam biasa aja Rp 10000, dan teh tawar hangat Rp 2000. Oia, saya juga beli roti buy 1 get 1 seharga satunya 10ribu. For your information disini gak ada minimarket ataupun ATM yaa guys. jadi kalo kalian niat beli bekal perjalanan sebaiknya yaa pas di Jakarta, sebelum naik KRL.
Selesai sarapan ternyata stasiun sudah ramai. Terlihat antrian ditempat cetak tiket. So, baiknya sesampainya di stasiun PALEDANG, kamu langsung cetak tiket aja. Karena banyak ibu2, nini2, aki2, yang belum paham caranya cetak tiket sendiri jadi membuat antrian agak lama. Pas saya cetak tiket aja ada 3 Bu ibu yang minta sekalian dicetak ini, karena soi gak ngerti caranya. Hari itu kereta yang saya naikin berangkatnya telat 1 menit, karena menunggu yang masih antri cetak tiket.
Untuk pembelian tiketnya secara online, melalui situs resmi KRL. Sebaiknya jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, supaya kebagian tiket. Apalagi kalau kamu berangkat di akhir pekan.
Harga tiket 20ribu untuk kelas ekonomi, 50ribu untuk kelas eksekutif. Perbedaan kelas ekonomi dan eksekutif hanya di kursinya aja yaa guys. Untuk waktu keberangkatan dan tiba sama saja.
Dalam satu hari ada 4 jadwal keberangkatan yaitu dari stasiun PALEDANG jam 07.50 sampai stasiun Sukabumi 09.54, 13.10 – 15.13, 18.30 – 20.36 selengkapnya bisa di cek langsung di website resmi Kereta Api Indonesia.

Stasiun Sukabumi letaknya didalam pasar, kalau pagi lumayan padat ya Bu. Jadi kalo kamu mau dijemput dengan mobil pribadi sebaiknya turun di Cisaat. Tapi kalo kamu berniat naik angkot yaa dari stasiun Sukabumi aja. Lebih banyak pilihan angkotnya. Tinggal kamu mau kemana sesampainya di stasiun. BTW di Sukabumi juga udah ada gojek yaa. Tapi untuk gocar masih jarang banget. Okelah kalau begitu, sekian cerita saya tentang kereta sukabumi. Kalo ada koreksi di komen aja ya, jangan baper. Selamat jalan-jalan!!!

jadwal-kereta-bogor-sukabumi-2017

Jadwal Kereta Api Bogor – Sukabumi – Bogor 2017

cisaat-station

Stasiun Cisaat – Sukabumi

Hei, Indonesia menarik loh!

Setiap tempat pasti memiliki kesan yang berbeda pula untuk pengunjungnya. Bukan hanya keindahan alamnya, bahasa, budaya, dan cara mereka bersosialisasi pun berbeda. Begitu pula dengan perjalanan untuk mencapai suatu tempat. Menyusuri hutan maupun tepi ranu saat menuju puncak semeru dengan arek-arek Lumajang pasti berbeda kesannya jika saya mendaki bebatuan dan tanah becek saat mendaki gunung Gede dengan anak-anak kampus. Pemandangan alamnya sudah pasti berbeda, tapi bukan hanya itu, mulai dari cara berbicara, peralatan yang mereka bawa, guyonan, bahkan mungkin saja tujuan untuk mencapai puncak pun berbeda.

Tempat yang pasti saya datangi saat berada di kota orang adalah pasar tradisional. Selain untuk mencari makanan khas maupun benda-benda lucu yang tidak biasa saya temukan ditempat lain, memperhatikan interaksi penjual dan pembeli saat adegan tawar-menawar adalah hal yang menyenangkan. Cara pedagang menjajakan dagangannya juga terkadang tidak biasa. Saya sering merasa keheranan dan bengong sekitar 5 detik sebelum akhirnya mengangguk-angguk sendiri tanda mengerti apa yang mereka bicarakan. Beberapa kali saya mencoba mengingat kosa-kata yang mereka ucapkan kemudian menanyakannya kepada teman yang berasal dari daerah itu. It’s Unique! Sungguh pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang satu milyar, pun.

Daerah yang pernah saya kunjungi saat ini baru meliputi pulau jawa dan pulau-pulau disekitarnya. Begitu beragamnya Indonesia, membuat ratusan kota yang sudah saya singgahi terlihat sedikit. Ini baru Pulau Jawa, BALI, Madura, dan pulau-pulau kecil desekitar Jawa. Bagaimana dengan daerah di ujung barat Indonesia atau diujung timurnya? Saya memiliki sahabat-sahabat dari Pulau Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan seorang teman yang tinggal dan mengabdi di fak-fak . Mereka sering sekali menceritakan keindahan tanah kelahiran mereka. Betapa beragamnya Indonesia dilihat dari sisi mana pun. Terdengar sangat mengasyikan. Tapi sayang seribu sayang, saya belum berkesempatan merasakan langsung keindahan yang saya dengar. Hal itu lah yang memotivasi saya menjadi pekerja keras yang sering menyapa lembur. Demi bisa membeli tiket pesawat ke tempat yang ‘katanya’ indah itu.

Si Takut berubah Menjadi Ketagihan

Perjalanan bersama AirAsia adalah perjalanan pertama saya dengan pesawat terbang. Saya yang awalnya tidak berani naik pesawat terbang, kini harus berada di dalam burung besi itu selama lebih dari 10 jam. Terbang. Berpapasan dengan awan, burung-burung, bahkan lebih tinggi dari mereka. Siapa sangka, saya yang awalnya hanya berandai-andai bisa mewujudkan salah satu mimpi saya, yaitu berada di negeri orang. Bahkan bukan hanya itu, saya bisa menunaikan ibadah umroh. Sungguh saya termasuk orang yang beruntung.
Rasa cemas menghantui saat hari yang sebenarnya sangat saya tunggu-tunggu itu tiba. Saya selalu merasa mulas dan banjir keringat di sekujur tubuh saat membayangkan harus berada di atas pesawat yang mengudara dalam waktu yang cukup lama. Mungkin bagi banyak orang adalah hal yang biasa, tapi bagi saya ini penting. Ini adalah pengalaman pertama saya mengudara dengan burung besi. Rasa cemas tentang hal-hal buruk yang akan terjadi dalam penerbangan membuat nyali saya ciut. Tidak peduli seberapa tinggi gunung yang sudah saya pijak puncaknya, saya memang takut naik pesawat.
Saat hari keberangkatan tiba, siangnya saya sempat menitipkan beberapa pesan kepada teman saya, kalau ternyata hal buruk menimpa saya saat di pesawat. Agak ‘lebay’ memang, tapi yaaa memang saya penakut jadi mau bagaimana lagi? Air mata tidak bisa terbendung lagi saat harus berpisah dengan ibu, adik, dan beberapa anggota keluarga lainnya yang mengantar kepergian kami. Hari itu, di penghujung bulan januari saya beserta ayah dan seorang sahabat saya akan berangkat menuju Saudi Arabia. Kami memperoleh tiket PP dari Datok Kamarudin Meranun yang murah hati. Datok adalah Deputy CEO dari Grup AirAsia. Kami mendapatkan tiket itu saat menghadiri perayaan ulang tahun salah satu brand muslimah ternama yang sudah dikenal di Indonesia bahkan di Dunia.

Kembali lagi ke cerita saat hari keberangkatan. Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, kemudian dilanjutkan dengan pesawat yang lebih besar menuju Jeddah.
Hati bergetar saat kaki ini mulai melangkah menapaki tangga menuju pesawat. ini adalah pertama kalinya saya melihat secara langsung keadaan di dalam pesawat. satu, dua, tiga, … sepuluh, dst saya menyusuri kursi sambil melihat nomor kursi. Mbak-mbak pramugari yang cantik-cantik membantu para pnumpang menemukan nomor kursinya. Beberapa mas pramugara juga membantu penumpang memasukkan barang bawaannya kedalam kabin. Mereka semua ramah dan tidak pernah berhenti tersenyum.
Jantung saya semakin berdetak kencang saat semua penumpang sudah menduduki kursinya dan beberapa awak kapal terlihat sedang bersiap-siap memperagakan penggunaan alat keselamatan. Jika bisa mata ini tak berkedip, mungkin sudah saya lakukan. Saya tidak ingin sedikit pun melewati penjelasan dari si mbak pramugari. Berkali-kali saya kencangkan sabuk pada kursi, memastikan saya sudah dalam keaadan aman. Saat tiba waktunya untuk lepas landas dan semua lampu dimatikan, ribuan salawat dan doa saya lafalkan. Semoga Tuhan melindungi kami semua yang berada didalam pesawat amin dan melancarkan perjalanan kami sampai kembali menyentuh daratan. Amin.

Lampu kembali dinyalakan, si burung besi mulai melaju tenang. cemas yang sebelumnya memenuhi pikiranku, perlahan berubah menjadi kagum. daratan terlihat semakin menjauh. jakarta hanya menyisakan kelap-kelip lampu, semakin tidak terlihat, terhalang awan. belum pernah aku melihat jakarta, seindah itu. Beberapa awak kapal pun kembali membagi senyumnya kepada kami. Dari senyum itu, saya berkesimpulan keadaan baik-baik saja. Si Burung besi telah sukses mengudara. Hal serupa terjadi pula saat kami mendarat di LCCT, kurang lebih satu setengah jam kemudian. masih dengan sneyum yang sama, para awak kapal mempersilahkan kami untuk turun dari pesawat. Alhamdulillah, penerbangan pertamaku telah sukses ku lalui. meskipun hanya satu setengah jam. meskipun hanya ke negara tetangga. meskipun setelah ini masih ada perjalanan panjang yang harus aku lalui, 10 jam diudara menuju Jeddah. aku tidak takut. malahan aku tidak sabar untuk memulai perjalanan yang lebih panjang di udara. AirAsia telah mengubah si takut menjadi ketagihan. Akhirnya aku naik pesawat, bu!

Foto bersama crew AirAsia di LCCT

Foto bersama crew AirAsia di LCCT

Trip to Lumajang (cuma perjalanan) #Part 1

Selamat Pagi. Dipostingan saya yang ketiga ini, saya akan sedikit bercerita. Lumayan banyak sih sebenernya, karena saya akan menceritakan perjalanan saya mudik ke kampung halaman saya. Cuma perjalanannya aja yaaa.. 😀

Kampung halaman saya ada di bagian timur Pulau Jawa. Kalau kalian pernah nonton film 5CM, pasti tahu gunung Semeru. Yak. Kampung saya berada dikaki sang Mahameru. Lumajang nama kotanya, 180 KM dari kota Surabaya. Lumayan Jauh dan pasti lama bila ditempuh dengan perjalanan darat, tapi memang kami akan menggunakan perjalanan darat sih.

Perjalanan dimulai tepat pukul 6.40. Pagi yang cerah, secerah hati ini yang sudah tak sabar untuk tiba di Kampung Halaman.

Banyak sekali persiapan yang kami lakukan. Maklum saja, sudah bias dipastikan kami akan berada di dalam kendaraan selama lebih dari 24 jam. Mulai dari makanan, minuman, pakaian ganti, peta mudik, bantal, sampai kaca mata hitam penghalau silau untuk aksesoris saat foto-foto. *harap maklum, saya ini narsis.

Mari sedikit flashback kebeberapa jam sebelumnya, sejak saya bangun tidur pukul 04.00 dini hari. Berhubung saya sedang mendapat libur puasa, saat anggota keluarga lain makan sahur, saya masih bias menambah jam tidur saya masih bisa menambah jam tidur saya. Lumayan, setelah semalam sebelumnya saya begadang untuk packing. Saat bangun tidur, hal pertama yang saya lakukan adalah packing Euis. Rasanya tidak bias saya berlama-lama jauh dari mojang yang satu ini. Perlu kalian ketahui, euis ini sangat berjasa untuk saya, kalo gaka da doi saya gak bisa mengisi blog saya ini. Hehehe (dilain kesempatan, saya akan menceritakan tentang euis, notebook yang sudah ha’mpir 4 tahun bersama saya)

Oke. Berhubung Bapak saya sudah mewanti-wanti kita akan berangkat ba’da sholat subuh, jam setengah 5 saya sudah merelakan tubuh saya ini diguyur air yang lumayan membuat saya bersin-bersin. Tapi memang dasar orang Indonesia, niat berangkat setengah enam, ujung-ujungnya hampir jam 7 saya berangkat.

 ….bersambung, broh….