just a simple promise on my birthday

Hari ini usiaku tepat 24 tahun. Selangkah lagi menuju usia perak yang katanya menjadi masa yang ditunggu-tunggu setiap pemuda dan pemudi. Masih teringat sekali dalam benakku, pertanyaan yang kau tanyakan dua hari yang lalu, “Kamu mau kado apa?” Aku bilang aku ingin rumah. Rumah yang ada tangganya 🙂

Kamu tau, aku ingin apa?
Aku, bukan ingin memiliki mobil mewah. Bukan ingin belanja barang-barang mewah di mall sebesar Grand Indonesia. Bukan juga ingin jadi putri raja. Bukan pula ingin bisa membaca masa depan.
Aku ingin jadi hujan yang pertama kali menembak tubuhmu. Masuk ke dalam dirimu. Menyatu dan tak pernah menanyakan jalan keluar.
Aku ingin mengalir hingga berhadapan dengan detak jantungmu.

Aku ingin menyatu dengan kamu.

Udah. Itu aja

 

 

Kisah Gunung dan Awan

Pada suatu masa….

Lahirlah sebuah kisah dari perasaan yang selalu bersembunyi dengan malu-malu. Tentang sepasang awan dan gunung yang tak saling menyelaraskan. satu merindukan sementara yang lainnya? entahlah. Ia sepertinya mengabaikan.

Ialah gunung yang selalu memendam rindu kepada awan sejak kali pertama ia mampu menjejakkan tubuh dengan menjulang. Bahkan dalam setiap detik waktu yang melaju, gunung tak pernah luput memandangi awan yang berarak riang dari kejauhan.

Ada satu pesona bernama entah yang membuat gunung jatuh kagum pada awan dengan segala pikatnya yang paling pekat.

             ***

ARGH!

emosi. saat ini juga pengen bikin tembok di sekeliling gw terus dikasi tulisan “DON’T DISTURB ME!!”  (curhatan pekerja yang lagi PENGEN FOKUS sama kerjaan sendiri, gara-gara dikejar deadline yang makin maju)

Far-e-wel Princess OOTD

Hai malam, yang barusan ramai kemudian menjadi sunyi! gemerlap ibukota dimalam hari dipenggujung minggu di awal bulan sungguh meriah. Baru saja aku menjadi bagian dari kegemerlapannya. Cuma sebentar. Berkaraoke ria melepas si princess ootd kerajaan DCC yang sedang mencari singgasana baru di kerajaan lainnya. Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu cari, ya ka!Maksud hati mau teriak-teriak lewat lagunya L’Arc En Ciel yang judulnya Ready Steady Go, tapi terlanjur di skip sama entah siapa. So, Tenda Birunya Teh Desi Ratnasari yang kemudian saya dan Rio tembangkan. lah. sumpah ini bukan curhat. ciyus!

Jadi ceritanya Semua yang dateng karokean wajib duet terus yang menang dapet hadiah uang seratus ribu rupiah dibayar tunai. Ya jelas aku kalah! hhaha! 

yakin sih cuma kebetulan, yang jadi partner duet saya adalah Rio, kawan karib sejak semester satu kuliah di parmad. Udah gitu, udah ah malu chelsea islan mah nyanyi di depan orang-orang. Udah gitu aja cerita karaoke-an-nya.

Saat nafas sudah mulai terasa sesak dan mata agak pedih, chelsea islan undur diri. Naik Ojeg online andalan demi bisa pake helm warna hijau sampe kosan. Cuma bayar 10ribu gegara pake kode promosi kampus anak binus ( #GRABBINUS), aku mendarat dengan cantik dikosan mungil nan gerah ini. 

Berhubung masih ngidam nyanyiin soundtracknya fillmetal alchemist, langsung buka aplikasi smule di sabrina, handphone kesayangan. belum selesai satu lagu udah keselek dan baru sadar si aqua galon belum dituang. Jadi di Pause dulu solo konsernya, buat jadi wonderwoman pengangkat galon! Sampe sekarang pun belum dilanjut lagi konsernya, gegara keasyikan nulis nih. hehehe. pokoknya gudlak buat ka dita! sampai jumpa lagi dilain waktu! suksezzz! 

*fotonya nyusul pas onlen di pc

Namaku Nimas..

Tak kenal maka tak sayang, semakin kenal semakin sayang. 

Ada pepatah jawa yang mengatakan “asmo kinaryo jopo” atau bahasa indonesianya “nama itu ibarat do’a”. Orang tuaku memberiku nama yang cantik pasti ada maksudnya. Yaa meskipun pernah waktu aku SD, aku tanya ke *Bu’e soal nama.

N  :  “Bu, nama *imas artinya apa?”

B  :  “Gak tau, ibu liat di koran, pas lg hamil mbak”

N  :  “Z”

Tapi untungnya aku lahir dan tumbuh berkembang di era yang super canggih sampai sampai karakter 2D pun punya lebih banyak fans dari pada manusia yang berdimensi-dimensi (baca: hatsune miku).

Namanya Om Google, yang gak pernah bilang ‘gak tau’ waktu ditanya. Untungnya dia om om, kalo tante tante (cewek) pasti selalu bilang ‘terserah’ pas ditanya.

***

Nimas bahasa jawa yang bermakna perempuan; Si ***Pae sepertinya ingin anak pertamanya yang menggemaskan ini  menjadi seorang hamba yang menyadari kodratnya sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri di kemudian hari, juga calon Ibu dari anak-anakku kelak. Pa’e sering banget bilang, “Mbak, kalo perempuan itu harus ……… (bla bla bla)”. Jadi inget percakapan waktu aku masih jaman jaman ababil, awal masuk SMA.

P  :  “Mbak, belajar belajar masak kenapa sih. Perempuan tuh harus bisa masak. Nanti kalo udah nikah suami sama anaknya mau dikasi makan apa? masa indomie melulu”

N  :  “delivery pizza aja”

P  :  “(mungkin kesel) pokoknya mulai besok belajar masak sama ibu”

Ayu yang berarti cantik, cantik paras, cantik hati, yang tentunya dapat menjadi penenang bagi yang memandangnya, yang senyumnya dapat menentramkan hati. Aku mah mengamini saja. Semoga memang benar benar terlahir untuk cantik.

Wardhani: Katanya sih dari nama keluarga. Tapi yang lainnya wardoyo, dari nama yangkung “Slamet Wardoyo”. Entahlah. Yang pasti si Wardhani (harus ada huruf ‘h’ nya) ini gak masuk di Akte, KK, mapun KTP.

***

nimas, terlahir untuk cantik

halo.. namaku nimas

Jadi, namaku Nimas Ayu. Apakah aku pernah protes tentang nama itu? Definitely, yes. Aku sempat merasa  malu kalau teman-teman memanggil aku dengan sebutan “mas, mas”. Kadang aku merasa namaku kok ndeso banget ya. . Padahal ketika orang tua kita memutuskan memberi kita nama dengan arti yang kuat dan mendalam, artinya mereka mengharapkan kita menjadi seperti nama yang telah diberikan kepada kita.

Padahal,

Apapun nama, sebagus apapun nama itu jika tidak ditunjang dengan kepribadian dan tingkah laku yang baik, maka lunturlah semua kebaikan yang telah ditanamkan oleh nama yang baik itu.

Namaku Nimas.  Bagiku, nama itu adalah anugerah. Aku ingin melakukan banyak hal lagi yang membuat nama sederhana itu menjadi berkah bagi semua yang kenal dan dekat denganku.Amin

EoA Ad : Bela si Kermitsky

Kerikil-kerikil ini laah yang menjadikan kami semakin kuat dan menyadarkan kami bahwa masih ada beberapa diantara KITA yang memang tulus membantu mengulurkan tangannya saat jatuh tersandung. -Nay-

Haloo.. ehm.. ehm.. check sound dulu deeh, udah lama gak ngetik soalnya. Untung masih hapal posisi huruf di keyboard qwerty, jadi gak kaya waktu jaman SD kalo ngetik nyari-nyari huruf dulu sampe mau bikin satu kalimat aja butuh waktu dua menit.

Baiklah, kali ini saya menulis untuk sahabat-sahabat saya. Bisa dibilang Geng saya gitu deh kalo dikelas. Pertama, saya akan jelaskan tentang KITA. Sudah pernah saya tuliskan saat saya berusia Sembilan belas tahun, mengenai arah kehidupan saya

KITA adalah sekumpulan remaja kreatif yang tersesat di Paramadina di pertengahan tahun 2010, sampai akhirnya menemukan markasnya di Gedung C, sebagai anak DKV. Kalo di film Divergent ada lima faksi, mungkin kami bisa dikategorikan kedalam faksi Dauntless. Tapi  untuk menjadi dauntless  sejati dibutuhkan keberanian yang diatas rata-rata untuk menghadapi para senior yang beragam wataknya, mulai dari yang sok cool, cool beneran, jutek, galak, jayus, sampai yang baik hati dan tidak sombong pun ada. Bukan hanya senior-senior yang jadi cobaan untuk kami, tapi juga tugas-tugas dari dosen yang mengharuskan kami untuk gak tidur sampe dua hari, alat tempur yang benar-benar menguras isi kantong sampek-sampek mau gak mau jadi kaum duafa, otoritas kampus yang kami rasa terlalu ribet untuk kami yang nyelow ini, dan masih banyak hal yang menjadi kerikil dalam perjalanan kami. Kerikil-kerikil ini laah yang menjadikan kami semakin kuat dan menyadarkan kami bahwa masih ada beberapa diantara KITA yang memang tulus membantu mengulurkan tangannya saat jatuh tersandung.

Okeeeh. Saya akan mulai dari orang yang paling berkesan untuk saya dan saya yakin untuk geng dari kumpulan orang terbuang. Meskipun sebenarnya semuanya memiliki kesan yang berbeda-beda dihati saya. 🙂 Lah lebay… yang pertama adalah BELA. Pertama kali duduk sebelahan sama doi yaitu saat kelas menggambar 1. Saat itu, saya masih menjadi Nay yang idealis, yang terpikirkan dibenak saya pokoknya gak lagi-lagi deh duduk sama cewek yang bentar-bentar minta digambarin. Yang ada gambar doi selesai tapi punya saya malah gak selesai. Satu lagi, doi itu berisik banget. Kayaknya ada tulang ikan yang nancep dilidahnya sampek-sampek gak bisa diem barang lima menit aja. Kayaknya bela harus berlatih ngomong didalem hati deh, soalnya semua yang diotaknya langsung meluncur keluar dari multnya tanpa di rem gitu, Yang khas dari doi adalah selalu naroh tisu di jidat supaya poninya gak keriting gara-gara kena keringet. Yang patut dicontoh dari Bela adalah kegigihannya, tapi dia bukan yang terGIGIh diantara kami. Doi tuh pekerja keras banget dan ogah rugi. Kasarnya, segalanya dijadiin duit nih sama doi. Tapi saluuuut deh buat kemandirian Bela yang berusaha banget bantu keluarganya  dengan kerja sana-sini.

Bela ituu . . .  ngangenin binggow! kalo ada doi, keramaian meningkan 200%. Ada aja celotehannya yang bisa bikin kami ketawa terbahak-bahak sampe mata berair dan hampir terkencing-kencing. Makanya saya dan kawan-kawan sayang banget sama Bela. Pernah yaaa… baru-baru ini saya kembali menjadi volunteer di salah satu acara advertising terbesar se-Indonesia. Naah kebetulan penanggung jawab volunteernya itu kenal juga sama Bela, sebut saja dia Melati. Si Melati ini cerita didepan anak-anak volunteer lainnya tentang tingkah Bela, kemudian salah seorang teman saya bilang gini “Waah aku juga kayak gitu mba.” terus yang lain ada juga yang nyeletuk “Temen gue juga ada yang kayak gitu!”. Daaan Guys, tau gak mba Melati ini bilang apa “Pokonya yang ini beda. Bener-bener parah banget deh inih anak.” (sampai saat ini saya gak berani nanya ke mbak Melati, maksudnya parah yang seperti apa yang mba melati maksud???). Sejujurnya masih banyak kisah tentang mba Beldah ini, mulai dari bela yang seneng icip icip sampai warga Tegal Parang yang anti Bela. tapi rasanya tidak akan cukup jikalau semua kisah kami dituliskan dalam blog yang tidak bersalah ini. So, Pokonya Bela memang terlahir untuk bikin ketawa. Wkakakak

Oia, Bela itu punya ponakan yang cantik banget namanya Aleah. Pokonya lucu banget deh ini anak, semoga gak mirip tantenya yaa nak. Selain ponakan yang imut banget, perempuan penyuka durian namun tidak suka sushi ini punya seekor kucing ang sangat dia banggakan. Namanya Bruno. ada Bruto juga sih, tapi seinget saya Mba Beldah ini lebih sering ceritain Bruto tuh. Tapiiii, meskipun penyuka kucing, dia sering dimirip-miripin sama kodok. #maapyabel. Entah dari mana asalnya, anak-anak menggil doi ‘kermit’ dan kalau diperhatikan, emang mirip sih, maka dinobatkan lah dia menjadi ‘Bela di ratu kermitsky’. *ketokpalutigakali.

belmit

Ciee Bela foto sama kembaran…

Si Takut berubah Menjadi Ketagihan

Perjalanan bersama AirAsia adalah perjalanan pertama saya dengan pesawat terbang. Saya yang awalnya tidak berani naik pesawat terbang, kini harus berada di dalam burung besi itu selama lebih dari 10 jam. Terbang. Berpapasan dengan awan, burung-burung, bahkan lebih tinggi dari mereka. Siapa sangka, saya yang awalnya hanya berandai-andai bisa mewujudkan salah satu mimpi saya, yaitu berada di negeri orang. Bahkan bukan hanya itu, saya bisa menunaikan ibadah umroh. Sungguh saya termasuk orang yang beruntung.
Rasa cemas menghantui saat hari yang sebenarnya sangat saya tunggu-tunggu itu tiba. Saya selalu merasa mulas dan banjir keringat di sekujur tubuh saat membayangkan harus berada di atas pesawat yang mengudara dalam waktu yang cukup lama. Mungkin bagi banyak orang adalah hal yang biasa, tapi bagi saya ini penting. Ini adalah pengalaman pertama saya mengudara dengan burung besi. Rasa cemas tentang hal-hal buruk yang akan terjadi dalam penerbangan membuat nyali saya ciut. Tidak peduli seberapa tinggi gunung yang sudah saya pijak puncaknya, saya memang takut naik pesawat.
Saat hari keberangkatan tiba, siangnya saya sempat menitipkan beberapa pesan kepada teman saya, kalau ternyata hal buruk menimpa saya saat di pesawat. Agak ‘lebay’ memang, tapi yaaa memang saya penakut jadi mau bagaimana lagi? Air mata tidak bisa terbendung lagi saat harus berpisah dengan ibu, adik, dan beberapa anggota keluarga lainnya yang mengantar kepergian kami. Hari itu, di penghujung bulan januari saya beserta ayah dan seorang sahabat saya akan berangkat menuju Saudi Arabia. Kami memperoleh tiket PP dari Datok Kamarudin Meranun yang murah hati. Datok adalah Deputy CEO dari Grup AirAsia. Kami mendapatkan tiket itu saat menghadiri perayaan ulang tahun salah satu brand muslimah ternama yang sudah dikenal di Indonesia bahkan di Dunia.

Kembali lagi ke cerita saat hari keberangkatan. Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, kemudian dilanjutkan dengan pesawat yang lebih besar menuju Jeddah.
Hati bergetar saat kaki ini mulai melangkah menapaki tangga menuju pesawat. ini adalah pertama kalinya saya melihat secara langsung keadaan di dalam pesawat. satu, dua, tiga, … sepuluh, dst saya menyusuri kursi sambil melihat nomor kursi. Mbak-mbak pramugari yang cantik-cantik membantu para pnumpang menemukan nomor kursinya. Beberapa mas pramugara juga membantu penumpang memasukkan barang bawaannya kedalam kabin. Mereka semua ramah dan tidak pernah berhenti tersenyum.
Jantung saya semakin berdetak kencang saat semua penumpang sudah menduduki kursinya dan beberapa awak kapal terlihat sedang bersiap-siap memperagakan penggunaan alat keselamatan. Jika bisa mata ini tak berkedip, mungkin sudah saya lakukan. Saya tidak ingin sedikit pun melewati penjelasan dari si mbak pramugari. Berkali-kali saya kencangkan sabuk pada kursi, memastikan saya sudah dalam keaadan aman. Saat tiba waktunya untuk lepas landas dan semua lampu dimatikan, ribuan salawat dan doa saya lafalkan. Semoga Tuhan melindungi kami semua yang berada didalam pesawat amin dan melancarkan perjalanan kami sampai kembali menyentuh daratan. Amin.

Lampu kembali dinyalakan, si burung besi mulai melaju tenang. cemas yang sebelumnya memenuhi pikiranku, perlahan berubah menjadi kagum. daratan terlihat semakin menjauh. jakarta hanya menyisakan kelap-kelip lampu, semakin tidak terlihat, terhalang awan. belum pernah aku melihat jakarta, seindah itu. Beberapa awak kapal pun kembali membagi senyumnya kepada kami. Dari senyum itu, saya berkesimpulan keadaan baik-baik saja. Si Burung besi telah sukses mengudara. Hal serupa terjadi pula saat kami mendarat di LCCT, kurang lebih satu setengah jam kemudian. masih dengan sneyum yang sama, para awak kapal mempersilahkan kami untuk turun dari pesawat. Alhamdulillah, penerbangan pertamaku telah sukses ku lalui. meskipun hanya satu setengah jam. meskipun hanya ke negara tetangga. meskipun setelah ini masih ada perjalanan panjang yang harus aku lalui, 10 jam diudara menuju Jeddah. aku tidak takut. malahan aku tidak sabar untuk memulai perjalanan yang lebih panjang di udara. AirAsia telah mengubah si takut menjadi ketagihan. Akhirnya aku naik pesawat, bu!

Foto bersama crew AirAsia di LCCT

Foto bersama crew AirAsia di LCCT