Where Are You? (iseng aja sih)

dimana kamu, jodoh?

dimana dimana dimana??

Perkara jodoh untuk sebagian umat memang menjadi hal yang cukup membuat pusing pala berbie. Apalagi untuk mereka yang sudah berada dibatas akhir usia remaja. Setuju atau tidak tapi memang harus diakui doa yang paling sering diucapkan orang-orang buat si yang lagi ulang tahun adalah: semoga cepet dapet jodoh, semoga gak jomblo lagi ya!, semoga segera menemukan kekasih halal, semoga cepet merried, dan bla bla bla yang intinya soal jodoh juga sih.  Padahal mungkin aja doa itu bukannya bikin si yang ulang tahun jadi happy, tapi malah bikin doi makin ngerasa nista. Begitu pula disaat momen-momen kumpul keluarga, sanak sodara, tetangga, dan kerabat-kerabat lainnya. Ada aja yang nanyain, “kapan nikah?” Calonnya mana, neng?”, daaan kalimat tanya sejenis yang biasanya Cuma dijawab dengan senyuman palsu, karena dalam hatinya sebenarnya panik dan merasa teriris. Sementara usia terus saja bertambah, tetapi kisah percintaan tidak kunjung ada kemajuan.

Padahal, sudah berbagai cara dilakukan untuk menemukan si jodoh itu, mulai dari download aplikasi pencari jodoh semacam tinder misalnya, ikutan kontak jodoh di internet, atau ada yang pake cara klasik minta dicomblangin temen dan sebagainya.  Tetep aja yaa ciin status singgel alias jomblo.

Anyway,  memangnya kalau punya pacar dijamin akan lebih bahagia ya? Bukankah meskipun  seseorang merasa sudah menemukan kekasih hatinya, resiko untuk berpisah itu masih ada. Saat hubungan dimulai, biasanya masing masing merasa pasangannya adalah orang yang paling sempurna dan merasa dialah orang yang paling tepat menjadi pendampingnya. Tapi, saat masa ”bulan madu” itu usai dan kenyataan menunjukkan sebaliknya, bukankah mereka justru akan merasa lebih tersakiti?

Lalu, apakah kita hanya duduk dirumah, atau didepan laptop terus nulis di blog kayak gini, atau berdoa aja sama sang maha kuasa sambil menunggu jodoh itu datang? Kalo menurut saya sih tidak. Setiap hal yang kita inginkan itu sebenarnya memiliki proses yang selaras dengan mendaki gungung. Tapi bukan berarti kita jadi kayak ninja hatori yang mendaki bukit lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang…… *lah kok jadi nyanyi

Jadi begini, brooooh. . .  Demi mencapai puncak, kamu harus terus melangkahkan kaki kan? Jalan yang dilalui pun tidak datar seperti jembatan suramadu.. Akan ada berbagai jalan menanjak, ranting besar dan bebatuan yang harus dilewati. Kamu bisa memilih berhenti saat halangan itu ada didepanmu dan kamu pun bisa membalikkan badan untuk kembali atau terus melangkahkan kaki kedepan. Jika kamu memilih untuk terus berjalan, meskipun pelan-pelan, puncak pasti akan terlihat di hadapan kamu. suwerr deeh.

Begitu pula dengan jodoh.  jodoh kamu pasti ada kok. Tenaang.. kalo belum ketemu berarti sekarang kamu sedang berhadapan dengan kerikil atau ranting besar. Coba dipinggirin dulu rantingnya, setelah itu baru deh kamu bisa melanjutkan perjalanan lagi.  Mungkin kamu belum siap dengan diri kamu sendiri. Karena terkadang, diri kamu lah yang menjadi ranting dalam perjalanan kamu. Barangkali kamu belum lulus kuliah atau masih harus bertualang mencari pekerjaan yang lebih baik gitu . Naaah, daripada sibuk mencari, bukankah lebih baik kita berusaha menuntaskan dulu impian dan keinginan pribadi kita itu? cobalah untuk menyelesaikan ambisi dan egoisme personal kamu dahulu. Setelah urusan dengan diri kamu sendiri sudah benar-benar tuntas baru deh kamu ciptakan ruang untuk orang lain.

Meningkatkan kualitas diri gak membuat kamu rugi, kan?. Malahan akan membuat kamu lebih menarik dan merasa siap. Coba deh kamu susun visi pribadi kamu sendiri, Bukankan dengan begitu kamu  akan tahu kemana kamu harus mengarahkan kemudi hidupmu?

Ingat yaa. . . Selalu ada hal baik bagi orang-orang yang melakukan hal baik. kamu yang sudah berusaha membawa hidup kamu kearah yang lebih sesuai dengan panggilan hati akan didatangi oleh orang yang layak mendampingi kamu.  Dia yang datang disaat hidupmu sudah terang kemungkinan besar adalah orang yang juga memiliki arah hidup sejalan dengan kamu. atau paling tidak, bersamanya kamu bisa jalan beriringan mencapai impian. !

Dia yang ditakdirkan untuk kamu, tidak akan jauh dari upaya kamu untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tuhan tidak pernah main-main dengan janjinya.

Bukankah pada akhirnya, jodohmu adalah cerminan dirimu?

اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)