Lumajang, Kota Sejuta Keseruan

Gerimis basah yang tidak dingin, sampai sore ini belum juga puas membasahi kota ini.
Padahal kemarin hujan sudah berkunjung sepanjang sore dan semalam gerimis pun sudah sempat mampir setelah kering sebentar.
Saya tidur terlalu pulas, seperti beruang yang sedang berhibernasi. Hanya suara petasan dan kembang api yang saya ingat.

Baru lima menit yang lalu saya meninggalkan kota ini. Kota pisang, Kota dengan sejuta keseruan. Ingin rasanya saya kembali dan menetap disana. Tapi mungkin akan lain ceritanya.

Seperti biasa, saya selalu suka pagi. Pagi disini sangat dingin dan indah.
Bayangkan saja, saya bisa menyambut keindahan matahari yang akan terbit dari puncak bukit setinggi 2900m dpl, sarapan rawon di gang sempit dekat pasar, makan siang di tepi pantai kemudian naik perahu mengelilingi pulau, mandi di air terjun setelah sebelumnya becek-becekan menuruni bukit dengan kemiringan kurang dari 45 derajat,  dan yang paling saya suka adalah perjalanan. . .
sepanjang perjalanan dengan pemandangan yang menawan. Malam yang dingin sambil menikmati gemerlap lampu kota dari atas bukit, dilengkapi dengan Langit bertabur bintang.
Siang hari yang biasanya terik, disini terasa sejuk dan menyegarkan mata dengan suguhan hamparan sawah dan deretan pohon pinus.
Apalagi hampir seluruh perjalanan saya lewati dari atas sepedah motor. Seolah berada dalam dekapan angin yang dingin.
– dalam perjalanan dari lumajang, 1 Januari 2015-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s