Si Takut berubah Menjadi Ketagihan

Perjalanan bersama AirAsia adalah perjalanan pertama saya dengan pesawat terbang. Saya yang awalnya tidak berani naik pesawat terbang, kini harus berada di dalam burung besi itu selama lebih dari 10 jam. Terbang. Berpapasan dengan awan, burung-burung, bahkan lebih tinggi dari mereka. Siapa sangka, saya yang awalnya hanya berandai-andai bisa mewujudkan salah satu mimpi saya, yaitu berada di negeri orang. Bahkan bukan hanya itu, saya bisa menunaikan ibadah umroh. Sungguh saya termasuk orang yang beruntung.
Rasa cemas menghantui saat hari yang sebenarnya sangat saya tunggu-tunggu itu tiba. Saya selalu merasa mulas dan banjir keringat di sekujur tubuh saat membayangkan harus berada di atas pesawat yang mengudara dalam waktu yang cukup lama. Mungkin bagi banyak orang adalah hal yang biasa, tapi bagi saya ini penting. Ini adalah pengalaman pertama saya mengudara dengan burung besi. Rasa cemas tentang hal-hal buruk yang akan terjadi dalam penerbangan membuat nyali saya ciut. Tidak peduli seberapa tinggi gunung yang sudah saya pijak puncaknya, saya memang takut naik pesawat.
Saat hari keberangkatan tiba, siangnya saya sempat menitipkan beberapa pesan kepada teman saya, kalau ternyata hal buruk menimpa saya saat di pesawat. Agak ‘lebay’ memang, tapi yaaa memang saya penakut jadi mau bagaimana lagi? Air mata tidak bisa terbendung lagi saat harus berpisah dengan ibu, adik, dan beberapa anggota keluarga lainnya yang mengantar kepergian kami. Hari itu, di penghujung bulan januari saya beserta ayah dan seorang sahabat saya akan berangkat menuju Saudi Arabia. Kami memperoleh tiket PP dari Datok Kamarudin Meranun yang murah hati. Datok adalah Deputy CEO dari Grup AirAsia. Kami mendapatkan tiket itu saat menghadiri perayaan ulang tahun salah satu brand muslimah ternama yang sudah dikenal di Indonesia bahkan di Dunia.

Kembali lagi ke cerita saat hari keberangkatan. Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, kemudian dilanjutkan dengan pesawat yang lebih besar menuju Jeddah.
Hati bergetar saat kaki ini mulai melangkah menapaki tangga menuju pesawat. ini adalah pertama kalinya saya melihat secara langsung keadaan di dalam pesawat. satu, dua, tiga, … sepuluh, dst saya menyusuri kursi sambil melihat nomor kursi. Mbak-mbak pramugari yang cantik-cantik membantu para pnumpang menemukan nomor kursinya. Beberapa mas pramugara juga membantu penumpang memasukkan barang bawaannya kedalam kabin. Mereka semua ramah dan tidak pernah berhenti tersenyum.
Jantung saya semakin berdetak kencang saat semua penumpang sudah menduduki kursinya dan beberapa awak kapal terlihat sedang bersiap-siap memperagakan penggunaan alat keselamatan. Jika bisa mata ini tak berkedip, mungkin sudah saya lakukan. Saya tidak ingin sedikit pun melewati penjelasan dari si mbak pramugari. Berkali-kali saya kencangkan sabuk pada kursi, memastikan saya sudah dalam keaadan aman. Saat tiba waktunya untuk lepas landas dan semua lampu dimatikan, ribuan salawat dan doa saya lafalkan. Semoga Tuhan melindungi kami semua yang berada didalam pesawat amin dan melancarkan perjalanan kami sampai kembali menyentuh daratan. Amin.

Lampu kembali dinyalakan, si burung besi mulai melaju tenang. cemas yang sebelumnya memenuhi pikiranku, perlahan berubah menjadi kagum. daratan terlihat semakin menjauh. jakarta hanya menyisakan kelap-kelip lampu, semakin tidak terlihat, terhalang awan. belum pernah aku melihat jakarta, seindah itu. Beberapa awak kapal pun kembali membagi senyumnya kepada kami. Dari senyum itu, saya berkesimpulan keadaan baik-baik saja. Si Burung besi telah sukses mengudara. Hal serupa terjadi pula saat kami mendarat di LCCT, kurang lebih satu setengah jam kemudian. masih dengan sneyum yang sama, para awak kapal mempersilahkan kami untuk turun dari pesawat. Alhamdulillah, penerbangan pertamaku telah sukses ku lalui. meskipun hanya satu setengah jam. meskipun hanya ke negara tetangga. meskipun setelah ini masih ada perjalanan panjang yang harus aku lalui, 10 jam diudara menuju Jeddah. aku tidak takut. malahan aku tidak sabar untuk memulai perjalanan yang lebih panjang di udara. AirAsia telah mengubah si takut menjadi ketagihan. Akhirnya aku naik pesawat, bu!

Foto bersama crew AirAsia di LCCT

Foto bersama crew AirAsia di LCCT

Advertisements

Pagi diatas Awan

Melewati pagi bersama AirAsia

Melewati pagi bersama AirAsia

Aku selalu suka pagi. Pagi selalu dingin . aku senang menikmati pagi. Apalagi jika ditemani secangkir teh manis hangat dan pisang goreng buatan ibu.

Semua berawal dari doa. Doaku yang ingin sekali menginjakkan kaki diluar negeri. Mencicipi udara dari belahan bumi lainnya. Memiliki paspor dengan cap negaara mana saja. Melihat para sahabat yang menghabiskan waktu liburan di singapur. Mendengar cerita dari teman-teman dekat yang baru saja tiba dari New Zaeland. Sebelumnya temanku yang lain menceritakan pengalamannya menjadi tamu di stadion bernabeu. Ada juga yang bercerita dengan sangat seru pengalamannya naik ‘tuk-tuk’ di Thailand, kemudian tersesat di Filipina.  Ditambah lagi mereka yang mengunggah fotonya dengan latar USS, bahkan menara Eiffel.

Iri? Bisa  jadi. Aku hanya bergumam dan berandai-andai, ‘kapan ya aku bisa keluar negeri seperti mereka?’patut aku akui, aku memang penghayal yang lumayan baik. Mulai dari berkhayal sedang check-in entah di bandara mana, yang pasti bukan di Indonesia, mengenakan jaket tebal dan sepatu boots sambil menenteng pasport. memberi makan burung-burung yang terbang bebas di taman. Atau hanya sekedar jalan-jalan sore menikmati sejuknya udara di Keukenhof gardens atau di Versailes, dan masih banYak lagi. Aku memang pandai berandai-andai. haha. . . padahal pada kenyataannya, jangankan ke luar negeri, naik pesawat saja belum pernah.

Aku memang terlalu penakut. Jangankan untuk berada didalam pesawat dengan ketinggian diatas 1000 kaki. Naik menara setinggi 10 M saja sudah gemetaran. Aku terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bagaimana mungkin benda besi dengan berat puluhan, bahkan ratusan ton bisa melayang setinggi itu dengan kecepatan yang tinggi. Agak ‘lebay’ sih. Mungkin karena pengaruh film juga.

Sebenarnya impianku simple saja. Aku ingin sekali bisa ke luar negeri. Kemana saja, yang penting aku punya passport da nada cap negara lain disana. Titik.

Sampai saat hari itu pun tiba. Tahun 2013, di bulan Juli. Malam itu Aku bersama seorang sahabatku menghadiri acara fashion show salah satu merek pakaian muslimah yang pada hari itu berulang tahun. Siangnya, masih pada rangkaian acara yang sama, sahabatku yang agak-mirip-kajol  ini mendapatkan voucher belanja 500 ribu + scarf warna abu-abu, gratis! Kalau aku sih gak terlalu berharap bisa menang voucher atau hadiah seperti itu. Seingatku aku memang tidak pernah mendapatkan undian. Sepertinya tingkat ke-hoki-an ku memang rendah.

Adalah Datok Dien Meranun, yang memberikan hadiah tiket AirAsia PP Jakarta-Jeddah kepada saya dan satu lagi mbak-mbak beruntung di acara itu. Bukan hanya satu, tapi dua sheat masing-masing untuk kami. Jadi kami bisa berangkat dengan makhrom masing-masing. Saya pun berniat mengajak ayah saya yang memang belum pernah pergi ke tanah suci. Alhamdulillah, setelah berbincang-bincang dengan datok yang saat itu hadir juga bersama istrinya, ternyata  mereka sangat baik. Datok yang pada malam itu mengenakan polo tshirt dan bawahan celana panjang terlihat santai dan ramah. Beliau tidak menolak saat kami ajak foto bersama. Bahkan Datok memberikan kartu namanya dan meminta saya untuk langsung mengirimkan tanggal keberangkatan melalui e-mail kepada beliau. Meskipun sebenarnya itu menjadi tanggung jawab penyelenggara acara. Seusai acara, kami beberapa kali berpapasan dalam perjalanan keluar Mall. Saya dan dan sahabat saya itu tiada henti berterima kasih kepada Datok dan keluarga. Alhamdulillah syukur tidak lupa saya ucapkan atas rejeki yang tiada terduga itu. Sampai terakhir kami bertemu datok saat keluar lift menuju lobby. Datok menghampiri kami kemudian mengatakan ia menambahkan 1 sheat tambahan agar sahabat saya bisa ikut ke tanah suci. Subhanallah. Allah memang punya rencana sendiri. Lewat Datok Dien dan AirAsia, kami diundang untuk bertamu ke tanah suci.

Saya yang belum pernah ke luar negeri, bahkan naik pesawat pun tidak pernah, Tiba-tiba saja bisa pergi ke Saudi Arabia. Bukan hanya sendiri, tapi bersama ayah dan seorang sahabat yang sudah seperti saudara perempuan saya sendiri. Itu artinya, saya kan segera punya passport kan.