Demi mendapatkan yang mustajab

Cukup ramai jamaah yang berada dibukit tersebut, padahal siang itu sangat terik. Kacamata hitam yang saya kenakan belum cukup untuk menghalau terik siang itu. Saat melirik jam ditangan, ternyata baru pukul 10 lewat, tapi rasanya seperti jam 1 siang di Jakarta. Jamaah lain dalam rombongan sepertinya lebih memilih untuk menunggu didalam bis, karena sudah 10 menit menunggu masih tak terlihat seorang dari rombongan kami di bukit yang tak terlalu besar itu.

Mendekati puncak bukit, mulai terlihat ukiran nama pasangan kekasih yang tersemat abadi di bebatuan. “mungkin lebih mustajab jika menuliskannya”.

Jabal rahmah agak curam, namun demi untuk mendapatkan “yang mustajab” itu cuaca panas dan curamnya bukit bukan penghalang.

Saat berada dipuncak, aku berdoa. Seperti biasanya, selalu berdoa. Awalnya hanya berdoa, namun melihat space kosong ditepi bukit, aku pun tergiur untuk mengukir namaku disana. “NIMAS AYU”.

Advertisements

“Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.