Antara Passion, Gengsi, dan Harapan

Man Shabara Zafira. Siapa yang sabar, (pasti) akan beruntung. Bukan hanya sekedar kalimat, tapi juga memiliki pengaruh besar dalam diri saya.
Masa libur semester pendek, sudah seharusnya saya isi dengan kegiatak Kerja Praktek. Begitu juga dengan teman-teman yang sudah menyelesaikan semester enam lainnya, sama seperti saya. Satu persatu teman-teman seperjuangan sependeritaan mendapatkan tempat KP /Magang. Ada tiga kategori dalam kelas kami, saat menghadapi liburan semester pendek. Yang pertama adalah mereka yang sudah mendapatkan tempat magang. Sebagian lagi masuk dalam kategori kedua, yaitu masih sibuk meng-aply portofolio ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan jasa desain dari magangers. Dan kategori terakhir adalah mereka-mereka yang memilih untuk menikmati liburan dengan kegiatan masing-masing. Mayoritas dari kami berada di kategori kedua. Saya sendiri, berada di antara kategori pertama dan kedua.  Adalah agensi yang menyediakan jasa pembuatan buku tahunan untuk sekolah-sekolah elit di kota-kota besar yang sudah menerima saya sebagai salah satu pegawainya. Lokasi kantornya ada di daerah kalimalang, di sebelah timurnya Jakarta timur. Gaji yang ditawarkan cukup menggiurkan.  cukuplaaah untuk sekedar jajan. Sebagai mahasiswa magang, saya rasa lumayan. tidak besar. hanya lumayan. Lalu apa yang membuat saya bimbang? Kenapa tidak langsung diambil aja kerjaannnya?
Seperti yang saya tuliskan pada tulisan saya sebelumnya mengenai peta kehidupan saya. Ini soal passion. Bukan gaji atau semudah apa saya mendapatkan pekerjaan. Sekali lagi, ini tentang passion. Dan cita-cita saya tentunya.
Bisa dibilang saya cukup, atau bahkan cenderung perfeksionis. Memiliki standar yang tinggi, atau lebih tepatnya. Gengsi gue gede, coy. Sebenarnya, dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, sedalam-dalamnya lubuk hati, saya ogah megang di tempat yang biasa-biasa saja. Meskipun itu advertising juga. Saya pun memasang standar, minimal advert luar. Sotoy. Tapi itulah saya.
Puluhan email saya layangkan ke perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan advertising besar di Jakarta. Mulai dari leo burnett, lowe, dentsu, jwt, dan beberapa agensi semisal mediatrac, serta perusahaan lain yang membutuhkan jasa desain. Alhasil, hanya dua perusahaa yang lolos. Padahal sudah dua minggu berselang sejak awal libur semester pendek. Satu lagi adalah brand busana musana muslim yang lumayan terkenal di Jakarta, atau mungkin di Indonesia. Bukannya melewati kesempatan emas, tapi lagi lagi saya harus mengatakan, ini adalah tentang passion dan cita-cita saya. Keinginan saya adalah menjadi bagian dari dunia advertising.

Bukankah menyenangkan jika iklan yang saya buat ditayangkan di televisi atau pasti ada perasaan bangga yang berbeda saat saya sedang asik membolak-balik majalah dan ternyata hasil desain saya terpampang disana. Atau saat menghadapi macet ibukota saya melihat isi billboard di jalan gatot subroto adalah hasil desain saya. Pasti sangat menyenangkan, saat saya mengatakan pada orang tua saya, itu hasil kerjaan aku lohhh…. :D pasti.
Tapi sudah lebih dari dua minggu, tidak ada titik terang. Tidak ada email yang isinya menolak lamaran saya ataupun menginformasikan panggilan interview.  Seperti digantung dan tak mampu melepaskan diri dari harapan.
Bukan merenungi nasib, tapi hanya mencoba mengevaluasi diri, apa yang kurang saya lakukan selama ini. Mungkin saya kurang banyak bersedekah, beribadah, atau bahkan silaturahmi kepada sesama manusia. Tapi saya tetap yakin, dengan niat yang besar pasti segala hal yang kita inginkan pasti akan tercapai. Dengan izin Tuhan tentunya. Kalaupun Tuhan tidak mengizinkan, pasti Ia telah menyiapkan yang lebih baik untuk kita. PASTI.

Advertisements

Pak Tua dan Dagangan DIpundaknya

Seorang bapak tua, dengan kerutan di wajahnya. kulitnya hitam legam terbakar matahari, membawa dagangan di pundaknya. Menjajakan tahu di pagi yang terik, di pertigaan pintu tol Cikampek.

Harusnya Ia terlihat sama dengan pedagang lainnya. tapi Ia tampak berbeda. Senyuman, penuh semangat, mensaratkan keramahan yang tulus. Mengais rejeki demi kelangsungan hidupnya dan mungkin anak-anaknya. Supaya keluarganya tetap bisa berlebaran.

padahal, setiap orang yang ada disana pasti tahu, siang itu sangat padat, banyak sekali kendaraan, polusi, kemacetan di segala arah. Kami-kami saja, yang hanya duduk di dalam mobil dan ber AC, mengeluh sepanjang kemacetan.

Harusnya saya bersyukur, tidak perlu berpanas-panasan, berharap rejeki dari kemacetan. Harusnya saya mencontoh si Pak Tua, tetap tersenyum, semangat, seberat apa pun cobaan hidup. Alhamdulillah. dan Semoga Si Pak Tua mendapat rejeki yang barokah dari Allah SWT.

Selamat Pagi, pagi, pagi, Pak. Tetap tularkan semangat kepada Kami.

Trip to Lumajang (cuma perjalanan) #Part 1

Selamat Pagi. Dipostingan saya yang ketiga ini, saya akan sedikit bercerita. Lumayan banyak sih sebenernya, karena saya akan menceritakan perjalanan saya mudik ke kampung halaman saya. Cuma perjalanannya aja yaaa.. 😀

Kampung halaman saya ada di bagian timur Pulau Jawa. Kalau kalian pernah nonton film 5CM, pasti tahu gunung Semeru. Yak. Kampung saya berada dikaki sang Mahameru. Lumajang nama kotanya, 180 KM dari kota Surabaya. Lumayan Jauh dan pasti lama bila ditempuh dengan perjalanan darat, tapi memang kami akan menggunakan perjalanan darat sih.

Perjalanan dimulai tepat pukul 6.40. Pagi yang cerah, secerah hati ini yang sudah tak sabar untuk tiba di Kampung Halaman.

Banyak sekali persiapan yang kami lakukan. Maklum saja, sudah bias dipastikan kami akan berada di dalam kendaraan selama lebih dari 24 jam. Mulai dari makanan, minuman, pakaian ganti, peta mudik, bantal, sampai kaca mata hitam penghalau silau untuk aksesoris saat foto-foto. *harap maklum, saya ini narsis.

Mari sedikit flashback kebeberapa jam sebelumnya, sejak saya bangun tidur pukul 04.00 dini hari. Berhubung saya sedang mendapat libur puasa, saat anggota keluarga lain makan sahur, saya masih bias menambah jam tidur saya masih bisa menambah jam tidur saya. Lumayan, setelah semalam sebelumnya saya begadang untuk packing. Saat bangun tidur, hal pertama yang saya lakukan adalah packing Euis. Rasanya tidak bias saya berlama-lama jauh dari mojang yang satu ini. Perlu kalian ketahui, euis ini sangat berjasa untuk saya, kalo gaka da doi saya gak bisa mengisi blog saya ini. Hehehe (dilain kesempatan, saya akan menceritakan tentang euis, notebook yang sudah ha’mpir 4 tahun bersama saya)

Oke. Berhubung Bapak saya sudah mewanti-wanti kita akan berangkat ba’da sholat subuh, jam setengah 5 saya sudah merelakan tubuh saya ini diguyur air yang lumayan membuat saya bersin-bersin. Tapi memang dasar orang Indonesia, niat berangkat setengah enam, ujung-ujungnya hampir jam 7 saya berangkat.

 ….bersambung, broh….